PEMBAHASAN
A.
Sejarah Munculnya Syiah
Syiah
secara bahasa adalah pendukung atau pembela. Syiah Ali adalah pembela atau
pendukung Ali, Syiah Muawiyah dalah pemela atau pendukung Muawiyah. Syiah
sebagai suatu aliran atau kelompok dalam islam merupakan aliran yang muncul
pada zaman Khalifah Sayyidina Ali Bin Abi Tholib. Sebagian pendapat mengatakan
kelompok Syiah muncul setelah munculnya kelompok Khawarij, sementara pendapat
yang lain mengatakan Syiah adalah kelompok yang muncul pertama kali sebelum
munculnya aliran Khowarij.[1]
Salah
satu pendapat, menjelaskan bahwa Syiah bersumber dari persia. Hal ini berdasarkan pada salah satu aqidah Syiah,yakni Imamah yang
meyakini bahwa adanya anugarah Ilahi yang serupa dengan kenabian yang tidak
dapat diperoleh melalui usaha manusia. Imamiyah ini, menurut syiah Imamiyah,
silih berganti hingga mencapai dua belas orang secara turun temurun. Dimulai
dari sayyidina Ali kw. Sampai dengan imam keuda belas. Yakni, Muhammad al-Mahdi.
Berdasarkan adanya Imamah ini, Syiah dianggap dari Persia, dengan dalih bahwa
keyakinan tentang adanya peranan tuhan dalam kepemimpinan serta turun-menurun,
tidak dikenal dalam masyarakat Arab, tetapi sangat diakui oleh masyarakat Persia.[2]
Menurut
pendapat yang lain, kelompok ini muncul
karena tipu daya Abdullah Bin Saba’, yang digambarkan sebagai seorang Yahudi yang
menyamar menjadi seorang Muslim yang taat yang bahkan berhasil meraih kekaguman
para Sahabat. Namun tujuannya adalah untuk memecah belah umat. Dia berhasil
menghasut masyarakat sehingga terjadi pemberontakan terhadap Kholifah ketiga
yang kemudian terbunuh. Dikatakan bahwa dia juga berperan sebagai penghambat
proses perdamaian antara Sayyidina Ali dan dua Shahabat Nabi, yaitu Thalhah dan
az-Zubair di Bashrah. Dia pula yang akhirnya menciptakan ide-ide ketika berada
di Kufah. Yang intinya mengagung-agungkan Sayyidina Ali kw. Dengam mengatakan
bahwa semestinya Ali-lah yang menjadi nabi, bukan Muhammad. Malaikat Jibril as.
Keliru dalam menyampaikan wahyu atau berkianat ketika menyampaikan wahyu, dan
lain sebagainya. Lalu Abdullah Bin Saba’ berhasil mengelabui orang-orang awam.
Yang memang secara umum sangat kagum kepada Sayyidina Ali kw. [3]
Tidak
sedikit pakar yang yang menilai bahwa
tidak mungkin para Shahabat bisa dengan mudahnya dipengaruhi oleh seorang Yahudi.
bahkan ada pendapat bahwa pribadi Abdullah Bin Saba’ sama sekali tidak pernah
ada.ia adalah tokoh fiktif yang diciptakan para Anti Syiah. Abdullah Bin Saba’ adalah
sosok yang tidak pernah wujud dalam kenyataan. Thaha Husain, salah seorang
ilmuan kenamman Mesir adalah salah seorang yang menegaskan ketiadaan Ibnu Saba’
itu dan bahwa ia adalah hasil rekayasa musuh-musuh Syiah.[4]
Penganut
aliran Syiah dan juga sekian Ahlussunnah berpendapat bahwa benih Syiah muncul
sejak masa Nabi Muhammad saw. Wafat. Ketika itu keluarga Nabi dan sejumlah Sahabat memandang Sayyidina
Ali kw. Lebih berhak menjadi Khalifah daripada Abu Bakar ra. Pendapat tentang
lahirnya Syiah sperti ini antara lain dikemukakan oleh Ibnu Khaldun dalam
tarikhnya, beberapa orang orielntalis, sperti Goldziher, dan banyak pemikir
kontemporer lainnya.[5]
B.
Kelompok-kelopok dalam Syiah
Dalam
aliran Syiah, menurut al-Baghdadi (w.429H), secara umum Syiah terbagi menjadi
empat kelompok besar dan masing-masing kelompok tersebut terbagi dalam beberapa
kelompok kecil. Empat kelompok besar tersebut adalah sebagai berikut[6]:
1.
Ghulat (ekstremis)
2.
Ismailiyah dan cabang-cabangnya
3.
Zaidiyah
4.
Itsna asyariyah
Berikut sedikit
penjabaran tentang masing masing kelompok tersebut.
1.
Syiah Ghulat
Kelompok
ekstremis ini hampir dapat dikatakan telah punah. Mereka antara lain adalah:
a.
As-Sabaiyah
Syiah sabaiyah ini merupakan aliran yang mengikuti Abdullah Bin
Saba’. Sabaiyah terbagi menjadi beberapa kelompok. Pertama, kelompok yang
mengangkat sayyidina Ali kw. Mencapai pada derajat ketuhanan. Kedua, kelompok
yang beranggapan bahwa Sayyidina Ali Bin Abi Thalib tidak mati melainkan dia
berada di awan. Ketiga, adalah kelompok yang beranggapan bahwa Ali kw. Memang
sudah wafat tetapi dia akan dibangkitkan lagi sebelum hari kiamat.[7]
Menurut
asy-Syahrastany, Syiah Sabaiyah adalah pengikut Ibnu Saba’ yang konon pernah
berkata kepada Ali:”anta anta” yakni engkau adalah tuhan. Ibnu Saba’ juga
mempopulerkan bahwa Sayyidina Ali kw. Memiliki tetesan ketuhahanan. Dia
menjelma melaui awan. Guntur adalah suaranya. Kilat adalah senyumnya. Dia kelak
akan turun kembali ke bumi untuk
menegakkan keadilan sempurna. [8]
b.
Syiah khaththabiyah
Mereka adalah penganut aliran Abu Al-Khaththab Al-Asady, yang
menyatakan bahwa imam Ja’far Ash-Shadiq dan leluhurnya adalah Tuhan. Imam Ja’far
sendiri mengingkari bahkan mengutuk kelompok ini. Karena sikap imam Ja’far yang
tegas itu, maka Abu Al-Khaththab mengangkat dirinya sebagai Imam. Ia
mengajarkan bahwa para nabi adalah tuhan, bahkan imam Ja’far dan para
leluhurnya pun dijadikan Tuhan. Al-khaththabiyah terbagi juga menjadi sekian
kelompok berbeda. Sebagian dari mereka percaya bahwa dunia itu kekal, tidak
akan binasa; surga adalah kenikmatan duniawi, mereka tidak mewajibkan shalat
dan mebolehkan minuman keras.[9]
c.
Al-Ghurabiyah
Kelompok ini merupakan Syiah yang meyakini bahwa sebenarnya Allah
mengutus malaikat Jibril as. Kepada Ali bin Abi Thalib kw., tetapi malaikat Jibril
itu keliru, bahkan ada yang menganggap malaikat Jibril berkhianat sehingga
menyampaikan wahyu kepada nabi Muhammad Saw. Karena itu mereka mengutuk
malaikat Jibril as. Sambil berkata: ”khana Al-amin/yang dipercayai telah
berkhianat.” Ali Syariati, pemikir Syiah kontemporer, berkomentar: “jika Jibril
memang salah dalam menyampaikan wahyu yang pertama kali, mengapa ia mengulangi
kesalahannya selama dua puluh tiga tahun?. Atau jika Jibril memang berkhianat.
Lantas kenapa Allah tidak menghukum Jibril? Atau melepas Jibril dari jabatnnya
sebagai pengantar wahyu?[10]
Masih ada beberapa kelompok Syiah lain yang termasuk golongan
ektremis atau Syiah Ghulat, yang tidak dapat penulis paparkan dalam makalah
sederhana ini.
2.
Syiah Ismailiyah
Kelompok Syiah Ismailiyah meyakini bahwa Ismail, putra Imam Ja’far
Ash-Shadiq, adalah Imam yang menggantikan ayahnya ( Ja’far Ash-Shadiq) yang
merupakan imam keenam dari aliran Syiah secara umum. Memang setelah
meninggalnya imam Ja’far, sekelompok penganut syiah percaya bahwa putra beliau,
Musa al-Kadzim adalah Imam ketujuh, sebagaimana kepercayaan Syiah Itsna
‘Asyariyah. Sedangkan kelompok lainnya mempercayai bahwa Ismail, kemudian
putranya, Muhammad, adalah imam sesudah ayah mereka, padahal ismail wafat lima
tahun sebelum wafatnya sang ayah (Imam Ja’far).
Syiah Ismailiyah dinamai juga
Syiah Sabi’ah (Syiah tujuh), karena mereka hanya memercayai tujuh
orang imam sejak sayyidina ali kw. Dan berakhir pada Muhammad putra Ismail.
Mereka juga digelari al-Bathiniyah, karena mereka percaya bahwa
al-Qur’an mempunyai makna lahir dan maka batin. Maka lahir adalah kulit, sedang
makna batin adalah inti.[11]
3.
Syiah Az-Zaidiyah.
Az-Zaidiyah adalah Syiah pengikut Zaid Bin Ali Zainal Abidin Bin
Husain Bin Ali Bin Abi Thalib kw. Beliau lahir pada 80 H. Dan terbunuh pada 122
H. Beliau dikenal sebagai seorang yang sangat taat beribadah, berpengetahuan
luas sekaligus revolusioner.
Imam Zaid lahir daan dibesarkan pada masa Bani Umayah, yang
digambarkan oleh Muhammad Imarah, Guru besar Universitas al Azhar Mesir, bahwa
kota Madinah pada masa itu sudah tak lagi memancarkan sinanya. Karena, keadilan
tak lagi ditegakkan. Para penguasa Bani Umayyah menghalalkan segara cara untuk
mencapai tujuannya. Dinasti ini lebih
menonjolkan fanatidme Arab yang sempit. Walasil, dinasti ini telah mencapai puncak
penganiayaan dan penindasan terhadap semua yang berusaha mengembalikan
nilai-nilai yang pernah subur pada masa Nabi dan para Sahabat beliau. Nah,
dalam situasi semacam inilah Imam Zaid lahir dan dibesarkan.[12]
Setelah tragedi karbala (680 M) Dimana Imam Al-Husain, putra Sayyidina Ali kw.
Tampil memerani penguasa yang dinilai berlaku aninaya, yaitu, Yazid putra Muawiyah.
Tetapi akhirnya terbunuh dengan cara yang sangat mengerikan. Dan dilanjutkan
dengan berbagai pemberontakan terhadap pemimpin yang dianggap aninaya yang
malah akhirnya dihadapi dengan tangan besi tanpa kasih. Akhirnya kaum Syiah mulai
mempertanyakan, apakah mereka akan tetap berjuang melaului cara revolusioner
yang akhirnya akan memakan korban yang amat besar? Apakah berdiam diri dan menyerahkan
semuanya kepada Allah yang berarti berlanjutnya pengainiayaan dan penindasan
terhdap masyarakat?
Sikap yang diambil oleh sebagian orang-orang Syiah adalah dengan
berdiam diri, demi memelihara diri sambil berdakwah dengan keteladanan yang
baik. Cara inilah yang dianut oleh Ali Zainal Abidin. Sikap yang serupa dengan
paman beliau, Sayyidina al-Hasan. Yang mengakui kekuasaan Muawiyah demi mejaga
kesatuan umat Islam.
Sikap berbeda diambil oleh Imam Zaid, yang kemudian melahirkan Syiah
Zaidiyah. Beliau lebih memilih melakukan perlawanan. Karena kenyataanya, ketika
Syiah diam maka malah terjadi lebih banyak penganiayaan dan penindasan
dimasyarakat. Sehingga perlawanan terhadap penguasa yang berlaku aniaya
merupakan dasar utama laihirnya Syiah zaidiyah. Mereka lebih merujuk pada Sayyidina
Ali kw. Dan Sayyidina al-Husain. Dimana keduanya tampil memerangi kedzaliman
walaupun dengan jumlah terbatas dan berakibat gugurnya mereka.
Syiah Zaidiyah beranggapan bahwa Imamah bisa diemban oleh siapapun
yang memiliki garis keturunan sampai fathimah putri Rasul saw. Baik melalui
putra beliau Sayyidina Al Hasan bin Ali ra. Ataupun Al- Usani Bin Ali ra.
Dan selama yang bersangkutan mampu
mengemban amanat untuk menjadi seorang Imam.[13]
Syiah Zaidiyyah menolak meggunakan Taqiyah dan juga menolak anggapan
bahwa para Imam adalah orang yang ma’shum (terjaga dari melakukan dosa
dan kesalahan). Mereka juga tidak mempercayai para imam sebagai seorang yag mendapat
ilmu khusus dari Allah SWT.
Az-Zaidiyah dalam konteks menetapkan hukum menggunakan Al-Qur’an , Sunah
dan nalar. Mereka tidak membatasi penerimaan Hadits hanya dari keluarga Nabi semata.
Tetapi juga ,mengandalkan periwayatan dari Kitab-kitab Shohih.
Dikatakan bahwa Syiah Zaidiyah merupakan kelompok Syiah yang paling
mendekati dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Bahkan banyak kitab-kitab karya Ulama
Syiah Zaidiyah. Seperti kitab Nailul Author dalam bidang Hadits dan Irsyadul
Fuhul dalam bidang fiqih karya ulama kenamaan yaman. Muhammad Bin Ali
Asy-Syaukani.
4.
Syiah Itsna Asyari’ah
Syiah Itsna Asyari’ah ini, biasa dikenal Imamiah atau Ja’fariyah.
Yang meyakini adanya dua belas Imam yang kesemuanya keturunan Sayyidina Ali kw.
Dan Fathimah az-Zahra. Putri Rosululah saw.
Kelompok ini merupakan mayoritas peenduduk Iran, Irak, serta beberapa
daerah di Suriah, Kuwait, Baharain, India,, juga di Saudi Arabia, dan beberapa
daerah (bekas) Uni Sofiet.
Adapun
kedua belas Imam menurut golongan Syiah Itsna Asyariyah adalah[14]:
1.
Abu al-Hasan Ali Bin Abi Thalib, 23 SH - 40 H, kemudian putra
beliau
2.
Abu Muhammad Al-Hasan Ibn Ali (az-Zaky) ,2 H – 50 H, lalu
saudaranya.
3.
Abu Abdillah Al-Husein Ibn Ali (Sayyid Asy-Syuhada’) 3 H – 61 H
4.
Ali Ibn al-Husein (Zain al-Abidin), 38 H – 95 H
5.
Abu Ja’far Muhammad Bin Ali (Al-Baqir) 57 H – 144 H
6.
Abu Abdullah Ja’far Bin
Muhammad (Al- Shadiq) 83 H – 148 H
7.
Abu Ibrahim Musa Bin Ja’far (Al-Kadzim) 128 H – 183 H
8.
Abu Al-Hasan Ali Bin Musa (Ar-Ridha) 148 H – 203 H
9.
Abu Ja’far Muhammad Bin Ali (Al-Jawad) 195 H – 220 H
10.
Abu Al-Hasan Ali Bin Muhammad (Al-Hadi) 212 H – 254 H
11.
Abu Muhammad Al-Hasan Bin Ali (Al-Askari), 232 H – 260 H
12.
Abu Al-Qasim Muhammad Bin Al-Hasan (Al-Mahdi) 255 H – Lalu
Menghilang Sebelum dewasa dan akan
muncul kembali sebagai imam al-Mahdi yang dinantikan.
Imam Mahdi adalah gelar seorang tokoh yang diyakini akan muncul
untuk menegakkan keadilan. Kepercayaan ini tidak terbatas pada kelompok Syiah saja,
melainkan juga pada sebagian besar Ahlussunnah. Bahkan sejarah mencatat, sekian
banyak orang yang mengaku sebagai imam Mahdi.[15]
Memang terdapat Hadits-hadits yang menjelaskan akan datangnya
seseorang yaneg digelari al-Mahdi, tetapi siapa orangnya dan apakah telah
datang atau belum. Dan seberapa kuat atau lemahnya hadits-hadits tersebut masih
menjadi perselisihan.
Syiah meyakini bahwa al Mahdi adalah Imam kedua belas yang
menghilang dan akan muncul lagi di zaman akhir sebagai penegak keadilan.
Sedangkan Ahlussunnah meyakini bahwa imam Mahdi belum muncul, dan akan mucul di
zaman akhir.ketika bumi sudah dipenuhi dengan kedzoliman dan kerusakan. Menurut
Ahlussunnah Imam Mahdi digambarkan sebagai yang akan muncul pada zaman tersebut
dan akan menegakkan keadilan. Dia merupakan keturunan Rosulullah saw. yang
namanya sama dengan nama beliau dan nama ayahnya sama dengan nama ayah beliau.
Dan kehadirannya al-Mahdi bebarengan dengan Nabi Isa as. Dan mereka
bersama-sama menegakkan keadilan diatas muka bumi.[16]
Kelompok
Syiah Imamah atau Itsna Asyariyah berpendapat bahwa 12 Imam yang disebut diatas
adalah orang-orang yang mendapat anugerah dari tuhan, serupa kenabian, yang
wajib diimani oleh para pengikut Syiah Itsna Ayariyah. Karena iman kepada Imamah
merupakan rukun Iman, menurut pandangan kaum Syiah. Kepercayaan Syiah Itsna
Asyariyah tentang Imamah, merupakan perbedaan yang paling menonjol antara Syiah
Itsna Asyariyah dengan Ahlussunnah Waljama’ah.
C.
Keyakinan Syiah
Dalam ajaran Syiah, mereka meyakini adanya Ushuluddin
(pokok-poko agama). Syiah memiliki lima Ushuluddin sehingga bisa disebut
sebagai Ushul al-Khomsah, adapun Ushul al-Khomsah adalah sebagai berikut[17]:
a.
Tauhid
Pada
prinsipnya tauhid adalah keesaan tuhan dalam dzat, sifat, dan perbuatanNya.
Serta kewajiban mengesakan dalam beribadah kepada Nya.
Dalam
hal sifat tuhan, Syiah lebih cenderung sependapat dengan Mu’tazilah. Dalam
pandangan Syiah Imamiyah, sifat-sifat Allah seperti Ilmu, Qudrat, Iradat, Hayat,
dan lain-lain, kesemuanya adalah dzat Nya yang sendiri, bukan sifat yang diluar
dzatNya.
b.
Al-Adl
Allah SWT. Maha adil, tidak sedikitpun menyentuh kedzaliman.
Keadilan Ilahi mutlak dipercayai oleh setiap Muslim. Namun Syiah lebih
cenderung sependapat dengan Mu’tazilah dalam hal keadilan, yakni Allah wajib
melakukan kebaikan kepada setiap makhluknya. Sehingga Allah memberikan ganjaran
kepada siapa yang taat, dan menjatuhkan hukuman kepada yang berdosa.
Dari
keyakinan ini akhirnya memunculkan perbedaan antara Ahlussunnah dengan Syiah,
bahwa menurut ahlussunnah, baik dan buruk di tetapkan berdasarkan Syariat,
sedangkan menurut syiah yang juga sama dengan pendapat Mu’tazilah bahwa baik
dan buruk ditetapkan berdasarkan Akal.
c.
Kenabian
Kelompok syiah berkeyakinan bahwa seluruh Nabi yang disebut dalam
al-Qur’an adalah utusan Allah SWT. Dan bahwa NABI Muhammad saw. adalah nabi
terakhir, dan penghulu seluruh Nabi. Beliau terpelihara dari kesalahan dan
dosa. Barang siapa yang mengaku mendapat wahyu atau diturunkan kitab kepadanya
setelah kenabian Muhammad saw. maka dia itu kafir dan harus dibunuh.
d.
Hari kemudian
Syiah
meyakini bahwa Allah SWT. Akan membangkitkan semua makhluk dan menghidupkan
mereka setelah kematian pada hari kiamat untuk melakukan perhitungan dan
balasan. Yang dibangkitkan adalah sosok yang bersangkutan masing-masing dengan
ruh dan jasadnya. Syiah juga meyakini segala yang sudah dijelaskan secara pasti
dalam al-Qur’an dan as-Sunnah seperti surga dan neraka, nikmat ataupun siksa di
alam Barzah. Timbangan amal, buku catatan amal manusia yang tidak melewatkan
satu halpun sekecil apapun itu. Dan semua manusia akan mendapat balasan dari
apa yang dilakukannya. Kalau amalnya baik maka baik, kalau buruk maka buruk.
e.
Imamah, yakni syiah meyakini adanya Imam-imam yang senantiasa
memimpin ummat sebagai penerus risalah kenabian. Para Imam ini kesemuanya
merupakan Ahlul Bait yang terpilih dan mendapatkan anugrah ketuhanan yang
serupa dengan kenabian. Dalam Syiah Itsna Asyariyah maka ada dua belas Imam yang
wajib di imani.
D.
Ajaran Syiah
Diantara ajaran
Syiah adalah sebagai berikut[18]:
a.
Diperbolehkannya Nikah Mut’ah
b.
Boleh melakukan Shalat Jum’at atau Shalat Dhuhur diwaktu Jum’atan dengan
sesuka hati
c.
Boleh menjama’ Sholat walaupun tidak bepergian.
d.
Faham Raj’ah, yaitu Imam-imam mereka, mulai Sayyidina Ali sampai Hasan al-Askari, imam ke sebelas akan kembali ke
dunia dan sebelumnya akan hadir imam Mahdi yang mengajak dan menyeru keadlian
kepada penduduk dunia.
e.
Sujud di maqtal Sayyidina Husain di karbala Irak. Ada pula yang
tabarrukan, ada yang memakan tanah maqtal, ada pula yang membawa tanah tersebut
untuk bekal, bahkan ada yang menganggapnya agung dan suci.
f.
Mencedrai diri dengan mencambuk tubuhnya sampai berdarah. Proses
gila ini dilakukan pada 10 Muharam yakni hari dimana Sayyidina Husain terbunuh
di karbala, Iraq
g.
Menambahi Syahadah ketiga pada saat Adzan shalat. Yaitu, “
asyhadu anna Aliyyan waliyullah”
h.
Syiah yang ghuluw mengklaim bahwa selain pengikut Syiah adalah
najis atau kafir.
i.
Syiah tidak mau menerima Hadits-hadits selain dari Ahli Bait Rasulullah
saw.
j.
Mereka meyakini bahwa ali lebih mulia daripada Abu bakar, umar an
utsman.
[1] Nur hidayat muhammad,benteng ahluusunnah wal jamaah , kediri:
nasyrul ‘ilmi publishing, 2014, hal. 32
[2] M. Quraisy syihab, SUNNAH-SYIAH bergandengan tangan! Mungknkah? Tangerang:
lentera Hati, 2007. Hal. 63
[3] M. Quraisy syihab, SUNNAH-SYIAH hal. 65
[4] M. Quraisy syihab, SUNNAH-SYIAH hal. 65
[5] M. Quraisy syihab, SUNNAH-SYIAH hal. 66
[6] M. Quraisy syihab, SUNNAH-SYIAH hal. 70
[7] Himam ‘awwali, ilmu kalam kelas XI ,MA NU TBS Kudus,, hal. 33
[8] M. Quraisy syihab, SUNNAH-SYIAH hal. 71
[9] M. Quraisy syihab, SUNNAH-SYIAH hal. 71
[10] M. Quraisy syihab, SUNNAH-SYIAH hal. 72
[11] M. Quraisy syihab, SUNNAH-SYIAH hal. 74
[12] M. Quraisy syihab, SUNNAH-SYIAH hal. 79
[13] M. Quraisy syihab, SUNNAH-SYIAH hal. 80
[14] M. Quraisy syihab, SUNNAH-SYIAH hal. 127
[15] M. Quraisy syihab, SUNNAH-SYIAH hal. 128
[16] Himam ‘awwali, ilmu kalam kelas XI ,MA NU TBS Kudus,, hal.10
[17] M. Quraisy syihab, SUNNAH-SYIAH hal. 92
[18] Nur hidayat muhammad,benteng ahluusunnah wal jamaah , hal.32
Tidak ada komentar:
Posting Komentar