Sabtu, 10 Juni 2017

Aliran Syiah



PEMBAHASAN
A.    Sejarah Munculnya Syiah
Syiah secara bahasa adalah pendukung atau pembela. Syiah Ali adalah pembela atau pendukung Ali, Syiah Muawiyah dalah pemela atau pendukung Muawiyah. Syiah sebagai suatu aliran atau kelompok dalam islam merupakan aliran yang muncul pada zaman Khalifah Sayyidina Ali Bin Abi Tholib. Sebagian pendapat mengatakan kelompok Syiah muncul setelah munculnya kelompok Khawarij, sementara pendapat yang lain mengatakan Syiah adalah kelompok yang muncul pertama kali sebelum munculnya aliran Khowarij.[1]
Salah satu pendapat, menjelaskan bahwa Syiah bersumber dari persia. Hal ini berdasarkan  pada salah satu aqidah Syiah,yakni Imamah yang meyakini bahwa adanya anugarah Ilahi yang serupa dengan kenabian yang tidak dapat diperoleh melalui usaha manusia. Imamiyah ini, menurut syiah Imamiyah, silih berganti hingga mencapai dua belas orang secara turun temurun. Dimulai dari sayyidina Ali kw. Sampai dengan imam keuda belas. Yakni, Muhammad al-Mahdi. Berdasarkan adanya Imamah ini, Syiah dianggap dari Persia, dengan dalih bahwa keyakinan tentang adanya peranan tuhan dalam kepemimpinan serta turun-menurun, tidak dikenal dalam masyarakat Arab, tetapi sangat diakui oleh masyarakat Persia.[2]
Menurut pendapat  yang lain, kelompok ini muncul karena tipu daya Abdullah Bin Saba’, yang digambarkan sebagai seorang Yahudi yang menyamar menjadi seorang Muslim yang taat yang bahkan berhasil meraih kekaguman para Sahabat. Namun tujuannya adalah untuk memecah belah umat. Dia berhasil menghasut masyarakat sehingga terjadi pemberontakan terhadap Kholifah ketiga yang kemudian terbunuh. Dikatakan bahwa dia juga berperan sebagai penghambat proses perdamaian antara Sayyidina Ali dan dua Shahabat Nabi, yaitu Thalhah dan az-Zubair di Bashrah. Dia pula yang akhirnya menciptakan ide-ide ketika berada di Kufah. Yang intinya mengagung-agungkan Sayyidina Ali kw. Dengam mengatakan bahwa semestinya Ali-lah yang menjadi nabi, bukan Muhammad. Malaikat Jibril as. Keliru dalam menyampaikan wahyu atau berkianat ketika menyampaikan wahyu, dan lain sebagainya. Lalu Abdullah Bin Saba’ berhasil mengelabui orang-orang awam. Yang memang secara umum sangat kagum kepada Sayyidina Ali kw. [3]
Tidak sedikit pakar yang  yang menilai bahwa tidak mungkin para Shahabat bisa dengan mudahnya dipengaruhi oleh seorang Yahudi. bahkan ada pendapat bahwa pribadi Abdullah Bin Saba’ sama sekali tidak pernah ada.ia adalah tokoh fiktif yang diciptakan para Anti Syiah. Abdullah Bin Saba’ adalah sosok yang tidak pernah wujud dalam kenyataan. Thaha Husain, salah seorang ilmuan kenamman Mesir adalah salah seorang yang menegaskan ketiadaan Ibnu Saba’ itu dan bahwa ia adalah hasil rekayasa musuh-musuh Syiah.[4]
            Penganut aliran Syiah dan juga sekian Ahlussunnah berpendapat bahwa benih Syiah muncul sejak masa Nabi Muhammad saw. Wafat. Ketika itu keluarga  Nabi dan sejumlah Sahabat memandang Sayyidina Ali kw. Lebih berhak menjadi Khalifah daripada Abu Bakar ra. Pendapat tentang lahirnya Syiah sperti ini antara lain dikemukakan oleh Ibnu Khaldun dalam tarikhnya, beberapa orang orielntalis, sperti Goldziher, dan banyak pemikir kontemporer lainnya.[5]
B.     Kelompok-kelopok dalam Syiah
Dalam aliran Syiah, menurut al-Baghdadi (w.429H), secara umum Syiah terbagi menjadi empat kelompok besar dan masing-masing kelompok tersebut terbagi dalam beberapa kelompok kecil. Empat kelompok besar tersebut adalah sebagai berikut[6]:
1.      Ghulat (ekstremis)
2.      Ismailiyah dan cabang-cabangnya
3.      Zaidiyah
4.      Itsna asyariyah
Berikut sedikit penjabaran tentang masing masing kelompok tersebut.
1.      Syiah Ghulat
Kelompok ekstremis ini hampir dapat dikatakan telah punah. Mereka antara lain adalah:
a.       As-Sabaiyah
Syiah sabaiyah ini merupakan aliran yang mengikuti Abdullah Bin Saba’. Sabaiyah terbagi menjadi beberapa kelompok. Pertama, kelompok yang mengangkat sayyidina Ali kw. Mencapai pada derajat ketuhanan. Kedua, kelompok yang beranggapan bahwa Sayyidina Ali Bin Abi Thalib tidak mati melainkan dia berada di awan. Ketiga, adalah kelompok yang beranggapan bahwa Ali kw. Memang sudah wafat tetapi dia akan dibangkitkan lagi sebelum hari kiamat.[7]
Menurut asy-Syahrastany, Syiah Sabaiyah adalah pengikut Ibnu Saba’ yang konon pernah berkata kepada Ali:”anta anta” yakni engkau adalah tuhan. Ibnu Saba’ juga mempopulerkan bahwa Sayyidina Ali kw. Memiliki tetesan ketuhahanan. Dia menjelma melaui awan. Guntur adalah suaranya. Kilat adalah senyumnya. Dia kelak akan turun kembali ke  bumi untuk menegakkan keadilan sempurna. [8]
b.      Syiah khaththabiyah
Mereka adalah penganut aliran Abu Al-Khaththab Al-Asady, yang menyatakan bahwa imam Ja’far Ash-Shadiq dan leluhurnya adalah Tuhan. Imam Ja’far sendiri mengingkari bahkan mengutuk kelompok ini. Karena sikap imam Ja’far yang tegas itu, maka Abu Al-Khaththab mengangkat dirinya sebagai Imam. Ia mengajarkan bahwa para nabi adalah tuhan, bahkan imam Ja’far dan para leluhurnya pun dijadikan Tuhan. Al-khaththabiyah terbagi juga menjadi sekian kelompok berbeda. Sebagian dari mereka percaya bahwa dunia itu kekal, tidak akan binasa; surga adalah kenikmatan duniawi, mereka tidak mewajibkan shalat dan mebolehkan minuman keras.[9]
c.       Al-Ghurabiyah
Kelompok ini merupakan Syiah yang meyakini bahwa sebenarnya Allah mengutus malaikat Jibril as. Kepada Ali bin Abi Thalib kw., tetapi malaikat Jibril itu keliru, bahkan ada yang menganggap malaikat Jibril berkhianat sehingga menyampaikan wahyu kepada nabi Muhammad Saw. Karena itu mereka mengutuk malaikat Jibril as. Sambil berkata: ”khana Al-amin/yang dipercayai telah berkhianat.” Ali Syariati, pemikir Syiah kontemporer, berkomentar: “jika Jibril memang salah dalam menyampaikan wahyu yang pertama kali, mengapa ia mengulangi kesalahannya selama dua puluh tiga tahun?. Atau jika Jibril memang berkhianat. Lantas kenapa Allah tidak menghukum Jibril? Atau melepas Jibril dari jabatnnya sebagai pengantar wahyu?[10]
Masih ada beberapa kelompok Syiah lain yang termasuk golongan ektremis atau Syiah Ghulat, yang tidak dapat penulis paparkan dalam makalah sederhana ini.
2.      Syiah Ismailiyah
Kelompok Syiah Ismailiyah meyakini bahwa Ismail, putra Imam Ja’far Ash-Shadiq, adalah Imam yang menggantikan ayahnya ( Ja’far Ash-Shadiq) yang merupakan imam keenam dari aliran Syiah secara umum. Memang setelah meninggalnya imam Ja’far, sekelompok penganut syiah percaya bahwa putra beliau, Musa al-Kadzim adalah Imam ketujuh, sebagaimana kepercayaan Syiah Itsna ‘Asyariyah. Sedangkan kelompok lainnya mempercayai bahwa Ismail, kemudian putranya, Muhammad, adalah imam sesudah ayah mereka, padahal ismail wafat lima tahun sebelum wafatnya sang ayah (Imam Ja’far).
Syiah Ismailiyah dinamai juga  Syiah Sabi’ah (Syiah tujuh), karena mereka hanya memercayai tujuh orang imam sejak sayyidina ali kw. Dan berakhir pada Muhammad putra Ismail. Mereka juga digelari al-Bathiniyah, karena mereka percaya bahwa al-Qur’an mempunyai makna lahir dan maka batin. Maka lahir adalah kulit, sedang makna batin adalah inti.[11]
3.      Syiah Az-Zaidiyah.
Az-Zaidiyah adalah Syiah pengikut Zaid Bin Ali Zainal Abidin Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib kw. Beliau lahir pada 80 H. Dan terbunuh pada 122 H. Beliau dikenal sebagai seorang yang sangat taat beribadah, berpengetahuan luas sekaligus revolusioner.
Imam Zaid lahir daan dibesarkan pada masa Bani Umayah, yang digambarkan oleh Muhammad Imarah, Guru besar Universitas al Azhar Mesir, bahwa kota Madinah pada masa itu sudah tak lagi memancarkan sinanya. Karena, keadilan tak lagi ditegakkan. Para penguasa Bani Umayyah menghalalkan segara cara untuk mencapai tujuannya.  Dinasti ini lebih menonjolkan fanatidme Arab yang sempit. Walasil, dinasti ini telah mencapai puncak penganiayaan dan penindasan terhadap semua yang berusaha mengembalikan nilai-nilai yang pernah subur pada masa Nabi dan para Sahabat beliau. Nah, dalam situasi semacam inilah Imam Zaid lahir dan dibesarkan.[12]
Setelah tragedi karbala (680 M) Dimana  Imam Al-Husain, putra Sayyidina Ali kw. Tampil memerani penguasa yang dinilai berlaku aninaya, yaitu, Yazid putra Muawiyah. Tetapi akhirnya terbunuh dengan cara yang sangat mengerikan. Dan dilanjutkan dengan berbagai pemberontakan terhadap pemimpin yang dianggap aninaya yang malah akhirnya dihadapi dengan tangan besi tanpa kasih. Akhirnya kaum Syiah mulai mempertanyakan, apakah mereka akan tetap berjuang melaului cara revolusioner yang akhirnya akan memakan korban yang amat besar? Apakah berdiam diri dan menyerahkan semuanya kepada Allah yang berarti berlanjutnya pengainiayaan dan penindasan terhdap masyarakat?
Sikap yang diambil oleh sebagian orang-orang Syiah adalah dengan berdiam diri, demi memelihara diri sambil berdakwah dengan keteladanan yang baik. Cara inilah yang dianut oleh Ali Zainal Abidin. Sikap yang serupa dengan paman beliau, Sayyidina al-Hasan. Yang mengakui kekuasaan Muawiyah demi mejaga kesatuan umat Islam.
Sikap berbeda diambil oleh Imam Zaid, yang kemudian melahirkan Syiah Zaidiyah. Beliau lebih memilih melakukan perlawanan. Karena kenyataanya, ketika Syiah diam maka malah terjadi lebih banyak penganiayaan dan penindasan dimasyarakat. Sehingga perlawanan terhadap penguasa yang berlaku aniaya merupakan dasar utama laihirnya Syiah zaidiyah. Mereka lebih merujuk pada Sayyidina Ali kw. Dan Sayyidina al-Husain. Dimana keduanya tampil memerangi kedzaliman walaupun dengan jumlah terbatas dan berakibat gugurnya mereka.
Syiah Zaidiyah beranggapan bahwa Imamah bisa diemban oleh siapapun yang memiliki garis keturunan sampai fathimah putri Rasul saw. Baik melalui putra beliau Sayyidina Al Hasan bin Ali ra. Ataupun Al- Usani Bin Ali ra. Dan  selama yang bersangkutan mampu mengemban amanat untuk menjadi seorang Imam.[13]
Syiah Zaidiyyah menolak meggunakan Taqiyah dan juga menolak anggapan bahwa para Imam adalah orang yang ma’shum (terjaga dari melakukan dosa dan kesalahan). Mereka juga tidak mempercayai para imam sebagai seorang yag mendapat ilmu khusus dari Allah SWT.
Az-Zaidiyah dalam konteks menetapkan hukum menggunakan Al-Qur’an , Sunah dan nalar. Mereka tidak membatasi penerimaan Hadits hanya dari keluarga Nabi semata. Tetapi juga ,mengandalkan periwayatan dari Kitab-kitab Shohih.
Dikatakan bahwa Syiah Zaidiyah merupakan kelompok Syiah yang paling mendekati dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Bahkan banyak kitab-kitab karya Ulama Syiah Zaidiyah. Seperti kitab Nailul Author dalam bidang Hadits dan Irsyadul Fuhul dalam bidang fiqih karya ulama kenamaan yaman. Muhammad Bin Ali Asy-Syaukani.
4.      Syiah Itsna Asyari’ah
Syiah Itsna Asyari’ah ini, biasa dikenal Imamiah atau Ja’fariyah. Yang meyakini adanya dua belas Imam yang kesemuanya keturunan Sayyidina Ali kw. Dan Fathimah az-Zahra. Putri Rosululah saw.
Kelompok ini merupakan mayoritas peenduduk Iran, Irak, serta beberapa daerah di Suriah, Kuwait, Baharain, India,, juga di Saudi Arabia, dan beberapa daerah (bekas) Uni Sofiet.
Adapun kedua belas Imam menurut golongan Syiah Itsna Asyariyah adalah[14]:
1.      Abu al-Hasan Ali Bin Abi Thalib, 23 SH - 40 H, kemudian putra beliau
2.      Abu Muhammad Al-Hasan Ibn Ali (az-Zaky) ,2 H – 50 H, lalu saudaranya.
3.      Abu Abdillah Al-Husein Ibn Ali (Sayyid Asy-Syuhada’) 3 H – 61 H
4.      Ali Ibn al-Husein (Zain al-Abidin), 38 H – 95 H
5.      Abu Ja’far Muhammad Bin Ali (Al-Baqir) 57 H – 144 H
6.      Abu Abdullah Ja’far  Bin Muhammad (Al- Shadiq) 83 H – 148 H
7.      Abu Ibrahim Musa Bin Ja’far (Al-Kadzim) 128 H – 183 H
8.      Abu Al-Hasan Ali Bin Musa (Ar-Ridha) 148 H – 203 H
9.      Abu Ja’far Muhammad Bin Ali (Al-Jawad) 195 H – 220 H
10.  Abu Al-Hasan Ali Bin Muhammad (Al-Hadi) 212 H – 254 H
11.  Abu Muhammad Al-Hasan Bin Ali (Al-Askari), 232 H – 260 H
12.  Abu Al-Qasim Muhammad Bin Al-Hasan (Al-Mahdi) 255 H – Lalu Menghilang  Sebelum dewasa dan akan muncul kembali sebagai imam al-Mahdi yang dinantikan.
Imam Mahdi adalah gelar seorang tokoh yang diyakini akan muncul untuk menegakkan keadilan. Kepercayaan ini tidak terbatas pada kelompok Syiah saja, melainkan juga pada sebagian besar Ahlussunnah. Bahkan sejarah mencatat, sekian banyak orang yang mengaku sebagai imam Mahdi.[15]
Memang terdapat Hadits-hadits yang menjelaskan akan datangnya seseorang yaneg digelari al-Mahdi, tetapi siapa orangnya dan apakah telah datang atau belum. Dan seberapa kuat atau lemahnya hadits-hadits tersebut masih menjadi perselisihan.
Syiah meyakini bahwa al Mahdi adalah Imam kedua belas yang menghilang dan akan muncul lagi di zaman akhir sebagai penegak keadilan. Sedangkan Ahlussunnah meyakini bahwa imam Mahdi belum muncul, dan akan mucul di zaman akhir.ketika bumi sudah dipenuhi dengan kedzoliman dan kerusakan. Menurut Ahlussunnah Imam Mahdi digambarkan sebagai yang akan muncul pada zaman tersebut dan akan menegakkan keadilan. Dia merupakan keturunan Rosulullah saw. yang namanya sama dengan nama beliau dan nama ayahnya sama dengan nama ayah beliau. Dan kehadirannya al-Mahdi bebarengan dengan Nabi Isa as. Dan mereka bersama-sama menegakkan keadilan diatas muka bumi.[16]
Kelompok Syiah Imamah atau Itsna Asyariyah berpendapat bahwa 12 Imam yang disebut diatas adalah orang-orang yang mendapat anugerah dari tuhan, serupa kenabian, yang wajib diimani oleh para pengikut Syiah Itsna Ayariyah. Karena iman kepada Imamah merupakan rukun Iman, menurut pandangan kaum Syiah. Kepercayaan Syiah Itsna Asyariyah tentang Imamah, merupakan perbedaan yang paling menonjol antara Syiah Itsna Asyariyah dengan Ahlussunnah Waljama’ah.
C.    Keyakinan Syiah
 Dalam ajaran Syiah, mereka meyakini adanya Ushuluddin (pokok-poko agama). Syiah memiliki lima Ushuluddin sehingga bisa disebut sebagai Ushul al-Khomsah, adapun Ushul al-Khomsah adalah sebagai berikut[17]:
a.       Tauhid
            Pada prinsipnya tauhid adalah keesaan tuhan dalam dzat, sifat, dan perbuatanNya. Serta kewajiban mengesakan dalam beribadah kepada Nya.
Dalam hal sifat tuhan, Syiah lebih cenderung sependapat dengan Mu’tazilah. Dalam pandangan Syiah Imamiyah, sifat-sifat Allah seperti Ilmu, Qudrat, Iradat, Hayat, dan lain-lain, kesemuanya adalah dzat Nya yang sendiri, bukan sifat yang diluar dzatNya.
b.      Al-Adl
Allah SWT. Maha adil, tidak sedikitpun menyentuh kedzaliman. Keadilan Ilahi mutlak dipercayai oleh setiap Muslim. Namun Syiah lebih cenderung sependapat dengan Mu’tazilah dalam hal keadilan, yakni Allah wajib melakukan kebaikan kepada setiap makhluknya. Sehingga Allah memberikan ganjaran kepada siapa yang taat, dan menjatuhkan hukuman kepada yang berdosa.
Dari keyakinan ini akhirnya memunculkan perbedaan antara Ahlussunnah dengan Syiah, bahwa menurut ahlussunnah, baik dan buruk di tetapkan berdasarkan Syariat, sedangkan menurut syiah yang juga sama dengan pendapat Mu’tazilah bahwa baik dan buruk ditetapkan berdasarkan Akal.
c.       Kenabian
Kelompok syiah berkeyakinan bahwa seluruh Nabi yang disebut dalam al-Qur’an adalah utusan Allah SWT. Dan bahwa NABI Muhammad saw. adalah nabi terakhir, dan penghulu seluruh Nabi. Beliau terpelihara dari kesalahan dan dosa. Barang siapa yang mengaku mendapat wahyu atau diturunkan kitab kepadanya setelah kenabian Muhammad saw. maka dia itu kafir dan harus dibunuh.
d.      Hari kemudian
Syiah meyakini bahwa Allah SWT. Akan membangkitkan semua makhluk dan menghidupkan mereka setelah kematian pada hari kiamat untuk melakukan perhitungan dan balasan. Yang dibangkitkan adalah sosok yang bersangkutan masing-masing dengan ruh dan jasadnya. Syiah juga meyakini segala yang sudah dijelaskan secara pasti dalam al-Qur’an dan as-Sunnah seperti surga dan neraka, nikmat ataupun siksa di alam Barzah. Timbangan amal, buku catatan amal manusia yang tidak melewatkan satu halpun sekecil apapun itu. Dan semua manusia akan mendapat balasan dari apa yang dilakukannya. Kalau amalnya baik maka baik, kalau buruk maka buruk.
e.       Imamah, yakni syiah meyakini adanya Imam-imam yang senantiasa memimpin ummat sebagai penerus risalah kenabian. Para Imam ini kesemuanya merupakan Ahlul Bait yang terpilih dan mendapatkan anugrah ketuhanan yang serupa dengan kenabian. Dalam Syiah Itsna Asyariyah maka ada dua belas Imam yang wajib di imani.
D.    Ajaran Syiah
Diantara ajaran Syiah adalah sebagai berikut[18]:
a.       Diperbolehkannya Nikah Mut’ah
b.      Boleh melakukan Shalat Jum’at atau Shalat Dhuhur diwaktu Jum’atan dengan sesuka hati
c.       Boleh menjama’ Sholat walaupun tidak bepergian.
d.      Faham Raj’ah, yaitu Imam-imam mereka, mulai Sayyidina Ali sampai Hasan  al-Askari, imam ke sebelas akan kembali ke dunia dan sebelumnya akan hadir imam Mahdi yang mengajak dan menyeru keadlian kepada penduduk dunia.
e.       Sujud di maqtal Sayyidina Husain di karbala Irak. Ada pula yang tabarrukan, ada yang memakan tanah maqtal, ada pula yang membawa tanah tersebut untuk bekal, bahkan ada yang menganggapnya agung dan suci.
f.       Mencedrai diri dengan mencambuk tubuhnya sampai berdarah. Proses gila ini dilakukan pada 10 Muharam yakni hari dimana Sayyidina Husain terbunuh di karbala, Iraq
g.      Menambahi Syahadah ketiga pada saat Adzan shalat. Yaitu, “ asyhadu anna Aliyyan waliyullah”
h.      Syiah yang ghuluw mengklaim bahwa selain pengikut Syiah adalah najis atau kafir.
i.        Syiah tidak mau menerima Hadits-hadits selain dari Ahli Bait Rasulullah saw.
j.        Mereka meyakini bahwa ali lebih mulia daripada Abu bakar, umar an utsman.


[1] Nur hidayat muhammad,benteng ahluusunnah wal jamaah , kediri: nasyrul ‘ilmi publishing, 2014, hal. 32
[2] M. Quraisy syihab, SUNNAH-SYIAH bergandengan tangan! Mungknkah? Tangerang: lentera Hati, 2007. Hal. 63
[3] M. Quraisy syihab, SUNNAH-SYIAH  hal. 65
[4] M. Quraisy syihab, SUNNAH-SYIAH  hal. 65
[5] M. Quraisy syihab, SUNNAH-SYIAH  hal. 66
[6] M. Quraisy syihab, SUNNAH-SYIAH  hal. 70
[7] Himam ‘awwali, ilmu kalam kelas XI ,MA NU TBS Kudus,, hal. 33
[8] M. Quraisy syihab, SUNNAH-SYIAH  hal. 71
[9] M. Quraisy syihab, SUNNAH-SYIAH  hal. 71
[10] M. Quraisy syihab, SUNNAH-SYIAH  hal. 72
[11] M. Quraisy syihab, SUNNAH-SYIAH  hal. 74
[12] M. Quraisy syihab, SUNNAH-SYIAH  hal. 79
[13] M. Quraisy syihab, SUNNAH-SYIAH  hal. 80
[14] M. Quraisy syihab, SUNNAH-SYIAH  hal. 127
[15] M. Quraisy syihab, SUNNAH-SYIAH  hal. 128
[16] Himam ‘awwali, ilmu kalam kelas XI ,MA NU TBS Kudus,, hal.10
[17] M. Quraisy syihab, SUNNAH-SYIAH  hal. 92
[18] Nur hidayat muhammad,benteng ahluusunnah wal jamaah , hal.32

Tidak ada komentar:

Posting Komentar